AMARAH


Amarah merupakan salah satu akhlaq yang tercela, yang dapat merusak iman dan hati kita. Perlu kita ketahui bahwa amarah merupakan Nyala api yang berasal dari percikan api neraka Alloh yang menyala-nyala, yang sampai menghujam dan membakar hati. Orang yang telah dikuasai amarah, berarti telah cenderung kepada perangai syetan, karena syetan diciptakan dari api. Oleh karenanya, mematahkan amarah merupakan suatu yang penting dalam pandangan agama.
Nabi Muhammad SAW. bersabda:
ليس الشّديْد بالسّرعة, إنّما الشّديد الذي يملك نفسه عند الغضب
artinya: orang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat, Akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”.
الغضب يفسد الإيمان كما يفسد الصبر العسل
Artinya: Amarah itu dapat merusak inman sebagaimana jadam (buah yang pahit) dapat merusak manisnya madu”.

dan nabi Muhammad SAW pernah bersabda ” tidaklah ada seorangpun yang marah, melainkan ia telah menghampiri neraka jahannam”.
Seorang laki-laki bertanya ” Ya Rosululloh sangsi apakah yang paling berat? ” Nabi SAW menjawab : kemarahan Alloh, “Orang itu bertanya lagi : “apakah yang bisa menyelamatkanku dari kemarahan Alloh? “Nabi SAW menjawab: “janganlah marah”.

Seorang laki-laki berkata kepada Rosululloh SAW : “perintahkan aku
dengan suatu amal yang terasa sedikit/ringan bagiku. “Nabi SAW bersabda “janganlah marah”! Rosululloh SAW mengulangi sabdanya , “janganlah marah” hingga beberapa kali.

bagaimana mungkin bahaya amarah tidak dianggap besar? Sebab secara lahir, Amarah dapat memotivasi untuk melakukan tindakan pukulan, caci maki, dan omelan. Sedangkan secara batin amarah dapat menimbulkan dendam, dengki, melahirkan kejahatan dan cercaan, keinginan membeberkan rahasia dan mencemarkan nama baik. Rasa senang timbul bila orang yang kita marahi mendapat mushibah dan rasa sedih bila ia mendapat kesenangan. Setiap dari perbuatan keji itu menimbulkan kerusakan.
Tindakan Preventif untuk Mengatasi Amarah
Tindakan preventif yang dapat anda lakukan untuk menghindari timbulnya kemarahan ada 2 hal, yaitu:
Pertama: mematahkannya secara bertahap dengan riyadhoh (latihan). yang dimaksu mematahkannya bukan berarti menghilangkannya secara total, karena amarah tidak dapat hilang tercabut sampai keakar akarnya, Bahkan jika ia hilang maka harus diupayakan kembali keberadaannya karena ia merupakan alat untuk memerangi orang kafir yang keji dan mencegah berbagai kemungkaran. salah satu melatihnya yaitu dengan mujahadah, yaitu membiasakan bersikap lembut dan siap menerima beban disamping menghindari hal-hal yang dapat membangkitkan kemarahan.
Kedua: Pengekangan marah ketika meluap-luap dapat dilakukan dengan menahan diri. hal ini dapat ditempuh dengan ilmu dan amal. Dengan Ilmu kita dapat tahu bahwa tidak ada yang membangkitkan amarah kecuali pengingkarannya terhadap berlakunya sesuatu atas kehendak Alloh, bkan atas keinginannya. Sedangkan pengingkaran terhadap kehendak Alloh mertupakan puncak kebodohan.
Secara amaliah ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar seseorang dapat terhindar dari nafsu amarah. Seperti mesalnya dengan mengucapkan ta’awwudz, yaitu : “‘a’uudzu billaahi minas syaithaanir rojiim”(aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk) karena kemarahan itu berasal dari syetan.
Apabila dengan langkah kemarahan belum bisa reda, maka hendaklah ia duduk , bila dalam keadaan berdiri, dan berbaringlah, bila ia dalam keadaan duduk disaat marah.
Nabi SAW bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya amarah itu adalah bara api dalam hati manusia, tidaklah kalian melihat kepada kedua mata(orang yang sedang marah) itu menjadi merah dan otot lehehernya menjadi besar. Maka barang siapa yang mengalami hal itu, hendaklah ia tempelkan pipinya di tanah (berbaring)”
Nabi SAW juga bersabda:
إنّ الشيطان خلق من النار , وإنما تطفأ النار بالماء, فإذا غضب أحدكم فليتوضأ
artinya: sesungguhnya setan itu diciptakan dari api dan api dapat dipadamkan dengan air , maka apabila seseorang dari kamu marah hendaklah ia berwudlu”

Nabi SAW bersabda: ” Tiada suatu pengendalian yang lebih disukai Alloh ta’aala dari pada pengendalian amarah oleh seorang hamba. Dan tidaklahseorang menahan amarah, melainkan Alloh Ta’aala memenuhi hatinya dengan keimanan.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: