DASAR PEMIKIRAN PELAKSANAAN TAHLILAN HARI KE 7, 40, 100, DST

Pada saat ulama menyebarkan Islam di Indonesia, di wilayah Indonesia sudah ada kebiasaan (adat) yang isinya adalah ibadah (non-Islam) yang bertentangan dengan syariat Islam. Kebiasaan (adat) ini sudah mengakar dimasyarakat disaat itu, artinya telah menjadi adat masyarakat. Oleh karenanya, ulama yang mendakwah Islam kemudian mengubah hal-hal yang bertentangan dengan syara’ (yaitu yang berisi kemusyrikan) dengan menggantinya berupa amalan-amalan Islami seperti do’a,/ dzikir berjama’ah, permohonan ampun (istighfar), pembacaan al-Qur’an dan dzikir-dzikir lainnya, tanpa mengubah kebiasaan (adat) sehingga tidak lagin bertentangan dengan syariat. Tentunya semua itu bukan tanpa pertimbangan dengan syariat Islam, bahkan hal itu sudah dipertimbangan dan dipantau dengan kaca mata syariat Islam oleh para ulama dengan sangat bijaksana.
Jika kita mengkaji, apa yang menjadi pertimbangan dan kebijaksaan ulama lebih mendalam maka kita akan menemukan banyak hal yang membenarkan hal itu, sebab adat (kebiasaan) itu hukumnya boleh dalam syariat Islam, sesuai kaidah ushul fiqh “ al ‘adatu muhkamatun” adat itu merupakan hukum, dengan catatan bahwa adat tersebut tidak lagi bertentangan dengan Al qur’an dan As sunnah dan juga ijma’ para ulama salaf(terdahulu)

Oleh karena itu mari kita mencoba menyingkap beberapa ilmu yang menjadi pertimbangan para ulama tentang hal ini.
Kita tarik satu masalah , yaitu tentang pelaksanan dzikir dan do’a berjamaah guna menghibur shohibul mushibah dan mendoakan mayit yang baru saja meninggal dunia atau biasa dikenal dengan acara “tahlilan “.

Pelaksanaan tahlilan atau dzikir bersama untuk mendo’akan saudara muslim yang telah mendahului kita pada malam ke 1 sampai malam ke 7 merupakan suatu sunnah yang baik, begitu juga dengan hari hari berikutnya, yang biasa dilakukan oleh masyarakat muslim yaitu pada hari ke 7, 40, 100, dan haul.

Salah satu keterangan yang digunakan diantaranya
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad didalam az-Zuhd dan al-Hafidz Abu Nu’aim didalam al-Hilyah tentang anjuran memberi makan setelah kematian ;
قال الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه في كتاب الزهد له حدثنا هاشم بن القاسم قال ثنا الاشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام. قال الحافظ أبو نعيم في الحلية حدثنا أبو بكر بن مالك ثنا عبد الله بن أحمد ابن حنبل ثنا أبي ثنا هاشم بن القاسم ثنا الأشجعي عن سفيان قال قال طاووس إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام.
“Imam Ahmad bin Hanbal radliyallahu ‘anh berkata : “Menceritakan kepada kami Hisyam bin al-Qasim, ia berkata, menceritakan kepada kami al-Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata : Thawus berkata, “sesungguhnya orang mati terfitnah (ditanya malaikat) didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka mengajurkan supaya memberikan makanan (yang pahala) untuk mereka pada hari-hari tersebut”.
Al-Hafidz Abu Nu’aim berkata
: “Menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, menceritakan kepada kami Abdulllah bin Ahmad Ibnu Hanbal, menceritakan kepada kami Hisyam bin al-Qasim, menceritakan kepada kami al-Asyja’iy dari Sufyan, ia berkata, Thawus berkata : sesungguhnya orang mati terfitnah didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan agar bersedekah makanan yang pahalanya untuk mereka pada hari-hari tersebut”

Hal ini sesuai dengan hadis Shohih yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan imam Bukhori tentang masalah sampainya pahala sedekah kepada mayit:

dari A’isyah, bahwasanya ada seorang lelaki mendatangi Nabi S.A.W dan berkata, Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku telah mati, dan dia tidak memberikan wasiyat, dan aku menyangkanya, apabila dia berbicara dia akan bersedekah, apakah dia akan mendapakat pahala bila aku bersedekah atasnya? Nabi menjawab : Na’am (iya).( Shohih Muslim , hadits no 1672)

“Dari Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia, lantas apakah ibunya akan mendapat manfaat jika dia bersedekah atas namanya? Rasulullah SAW menjawab : “Ya (bermanfaat baginya).” Kemudian lelaki itu menyedekahkan kebunnya atas nama ibunya dengan disaksikan oleh Rasul SAW.
(HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

Hadits lain yang bersesuaian sebagai pendukung hadits diatas, yang diriwayatkan oleh imam ahmad bin Hanbal,

قال ابن جريج في مصنفه عن الحارث ابن أبي الحارث عن عبيد بن عمير قال يفتن رجلان مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن سبعا، وأما المنافق فيفتن أربعين صباحا.
“Ibnu Juraij didalam mushnafnya berkata, dari al-Harits Ibnu Abi al-Harits dari ‘Ubaid bin Umair, ia berkata ; dua laki-laki terfitnah yakni mukmin dan munafik, adapun orang mukmin terfitnah selama 7 hari, sedangkan orang munafik terfitnah selama 40 hari”.

Demikian juga mendo’akan orang mati dan dzikir-dzikir lain adalah tidak apa-apa (boleh) dilakukan di hari-hari apa saja atau menentukannya sesuai keadaan tertentu apalagi dipandangan sebagai sebuah kemaslahatan dan tidak ada larangannya, sebab pengkhususan hari-hari tertentu dalam melakukan amal-amal kebaikan adalah boleh. al-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy asy-Syafi’i mengatakan ketika mengomentari hadits al-Bukhari no. 1118, sebagai berikut ;

“Dan didalam hadits ini jalurnya diperselisihkan, yang menunjukkan atas kebolehkan (jaiz) pengkhususan sebagian hari-hari dengan amal-amal shalihah dan berkelanjutan (terus-terusan) melakukannya”.

Dengan demikian, tidaklah masalah menentukan hari-hari tertentu untuk melakukan amal-amal shalih, dan ini tidak hanya dalam hal tahlilan saja, termasuk kegiatan-kegiatan lainnya,

Menentukan hari-hari tertentu untuk melakukan dzikir bersama atau tahlilan pada malam ke 7, 40, 100 dst , ini tergolong kedalam Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik) sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khotab ra. Dalam hadis berikut :

“Dari Abdurrahman bin Abdul Qarai, beliau berkata: “Saya keluar bersama Umar Bin khatab (Khalifah Rasyidin) pada suatu malam bulan Ramadhan ke Mesjid Madinah. Di dalam mesjid itu orang-orang shalat tarawih bercerai-berai. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada yang shalat dengan beberapa orang di belakangnya. Maka Umar RA berkata : ”Saya berpendapat akan mempersatukan orang-orang ini. Kalau disatukan dengan seorang imam sesungguhnya lebih baik, serupa dengan shalat Rasulullah”. Maka beliau satukan orang-orang itu shalat di belakang seorang Imam, namanya Ubai bin Ka’ab.
Kemudian pada suatu malam kami datang lagi ke mesjid, lalu kami melihat orang shalat berjama’ah di belakang seorang Imam. Umar RA. berkata : ”INI ADALAH BID’AH YANG BAIK”.
(Shahih Bukhari Juz I hal. 242)

Coba kita perhatikan yang dilakukan para ulama yaitu mengumpulkan masyarakat yang melakukan kebiasaan (adat) yang isinya adalah ibadah (non-Islam) yang bertentangan dengan syariat Islam. Dengan menggantinya berupa amalan-amalan Islami seperti do’a/ dzikir berjama’ah , seperi halnya Khalifah Umar bin Khottob yang mengumpulkan umat yang bercerai berai dalam sholat tarawih menjadikan satu jamaah dengan satu imam yang dianggap lebih syar’i.

Lalu jika ditanya apa bid’ah hasanah dibenarkan dalam islam? Jawabnya jika memang bid’ah hasanah tidak dibenarkan maka sama saja menuding khalifah Umar bin Khattab Ra sebagai pendosa karena telah melakukan perbuatan yang tidak diajarkan oleh Rosul.

Diantara dalil adanya pentakhsisan hadis “KULLU BID’ATIN DHOLALAH (SETIAP BID’AH ITU SESAT)” menjadi dua bagian yaitu Bid’ah Sayyiah(buruk) dan Bid’ah Hasanah (baik), yaitu terletak pada keumuman lafadznya yaitu menggunakan KULLUN yang bermakna majmu’ dan juga hadis hadis berikut (selain dari hadis diatas tentang perkataan umar adanya Bid’ah Hasanah) sebagai pentakhsisnya :

(1 )Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para Sahabat (Ahlul Yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (Hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra.

Berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas Ahlul Yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlul Qur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??
Maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dgn Umar, dan engkau (Zeyd) adalah pemuda, cerdas dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat) kau telah mencatat wahyu dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”
Berkata Zeyd : “Demi Allah, sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”
“Maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dgn mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an.”
(Shahih Bukhari Hadits no.4402 & 6768)

(2) Dan dikuatkan dengan Hadis berikut :

من سنّ في الاسلام سنّة حسنة فعل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أجورهم شئ . من سنّ في الاسلام سنّة سيّئة فعل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ولا ينقص من أوزارهم شئ . (رواه مسلم)

“Barangsiapa yang mengadakan dalam islam SUNNAH HASANAH (sunnah yg baik) maka diamalkan orang (dikemudian hari) sunnahnya itu, maka diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan tersebut, dengan tidak mengurangi sedikit pun dari pahala orang yg mengerjakan kemudian hari itu
Dan Barangsiapa yang mengadakan dalam islam SUNNAH SAYIAH (sunnah yg buruk) maka diamalkan orang (dikemudian hari) sunnah yg buruk itu, maka diberikan kepadanya dosa seperti dosa orang yang mengerjakan tersebut, dengan tidak dikurangi sedikit pun dari dosa orang yg mengerjakan kemudian itu”
. (HR. Muslim)

Hadis hadis diatas merupakan beberapa dalil yang digunakan oleh para imam mujtahid untuk ber ijthad. Ijtihad merupakan penetapan Hukum yang di formulasikan dari Al Qur’an dan As Sunnah, jadi intinya perbuatan Bid’ah yang hasanah tidak lepas dari Al qur’an dan As Sunnah, sebagaimana diterangkan dalam Hadis yang Shohih tentang Ijtihad:

Dari Rasululloh Saw ketika beliau mengutus Mu’adz ke Yaman, maka beliau bersabda, yang artinya:

“Bagaimana engkau menghukumi?.” Muadz berkata: “Aku akan menghukumi dengan apa yang ada di dalam Kitabullah.” Beliau bersabda: “Maka jika tidak ada dalam Kitabullah?.” Muadz menjawab: “Maka dengan sunnah Rasululloh Saw.” Beliau berkata lagi: “Maka jika tida ada dalam sunnah Rasululloh ?.” Mu’adz menjawab: “Aku akan berijtihad dengan fikiranku.” Rasululloh Saw bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq pesuruh Rasululloh Saw.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Darami)

WalHasil hal-hal seperti ini (tahlilan)merupakan hasil ijthad para ulama yang dapat dipertanggung jawabkan dengan Al qur’an dan As sunnah yang jauh dari kata kata sesat , khurafat, dholalah atau lainnya.

Ada sebagian golongan yang menganggap dan melarang hal semacam ini merupakan buat-buatan atau menambah-namabah syariat yang sudah sempurna dengan dalil ayat Al Qur’an :

“Hari inilah KUSEMPURNAKAN agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kuridhoi Islam inilah menjadi agama kamu.” (QS. Al Maidah : 3)

Berdasarkan penjelasan diatas hal semacam ini tidaklah menyimpang dari ayat ini, karena apa yang dilakukan para ulama tersebut bukanlah menambah nambah syariat dan tidak ada dasarnya, jadi jelaslah perkataan seperti itu adalah pemahaman yang sempit tentang makna sempurna dalam ayat tersebut dan hanya dalih untuk saling menyalahkan antara sesama muslim.

Sebagai tambahan untuk menutup kemungkinan sebagian golongan yang berpendapat dzikir berjamaah dan jahr merupakan perbuatan yang tidak diajarkan Rosululloh , padahal hal seperti ini Rosululloh Saw dan para Shahabatlah yang mengajarkan , karena itu saya lengkapi dengan hadis hadis Berikut :

Dalil dzikir bersama :
مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْأ مَغْفُوْرًا لَكُمْ –أخرجه الطبراني
Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir dan tidak mengharap kecuali ridha Allah kecuali malaikat akan menyeru dari langit : Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian.(HR. Ath-Thabrani)

Dalil dibolehkannya dzikir dengan Jahr (keras)
Rasulullah SAW bersabda :
يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّي عّبْدِي بِي وَأنَا مَعَهُ عِنْدَ ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرًا مِنْهُ –منقق عليه

Allah Ta’ala berfirman : Aku kuasa untuk berbuat seperti harapan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberinya taufiq serta pertolongan kepadanya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebut nama-Ku dengan lirih, Aku akan memberinya pahala dan rahmat dengan sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan malaikat yang mulia.(HR Bukhari-Muslim)

Diantara dalil-dalil dzikir bersama:

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka hendaklah kalian bersenang-senang padanya.” Para Sahabat beliau bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksud dengan taman-taman surga?” Beliau pun menjawabnya : “Halaqah-halaqah dzikir.”
(HR. At-Tirmidzi dalam Sunan nya, juz 5 hal. 498 Kitabud Da`awat bab Ma Ja`a fi Aqdit Tasbih bil Yadi no hadits 3510 dari Anas bin Malik ra.)

Abu Said Al-Khudri ra menceritakan : Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah keluar dari rumahnya menuju masjid dan mendapati di masjid itu halaqah (posisi duduk segerombol orang dengan formasi lingkaran). Maka Mu’awiyah menanyai mereka: “Untuk apa kalian duduk-duduk di sini?” Mereka pun menjawab : “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah.” Mua’wiyah pun mengulang pertanyaannya sembari memastikan : “Demi Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk itu?” Mereka pun menjawab: “Demi Allah, kami tidak duduk di sini kecuali untuk itu.” Maka Mu’awiyah menyatakan kepada mereka : “Tidaklah aku meminta kalian bersumpah karena aku mencurigai kejujuran kalian. Dan tidaklah ada seorang pun yang kedudukannya dekat dengan Nabi SAW yang lebih sedikit dariku dalam meriwayatkan hadits Nabi SAW. Dan sesungguhnya Nabi SAW pernah di suatu hari keluar dari kamarnya ke masjid beliau dan mendapati satu halaqah dari para Sahabat beliau. Maka beliau pun menanyakan kepada mereka yang duduk di halaqah itu: (“Mengapa kalian duduk di sini?”) Mereka pun menjawab : (“Kami duduk di sini adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bertahmid kepada-Nya karena Dia telah menunjuki kami kepada Islam dan telah memberi kami kenikmatan dengan agama ini.”).
Kemudian Rasulullah SAW mengatakan kepada mereka : (“Demi Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk keperluan itu?”). Maka mereka pun segera menjawab : (“Demi Allah kami tidak duduk di sini kecuali untuk keperluan tersebut.”) . Setelah mendapat jawaban demikian Nabi pun menyatakan kepada mereka : (“Ketahuilah, sesungguhnya aku tidaklah meminta kalian bersumpah karena aku mencurigai kalian. Akan tetapi, telah datang kepadaku Malaikat Jibril. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia telah berbangga dengan majelis kalian di hadapan para Malaikat-Nya.”

(HR. Muslim dalam Shahih nya, juz 17 hal. 190 Kitab Adz-Dzikir wad Du’a wat Taubah wal Istighfar , Bab Fadl-lul Ijtima’ `ala Tilawatil Qur’an wa `ala Adz-Dzikri . Hadits ke 2701/40, Kitab Al-Haj no. 436 dan HR. Nasa’i dalam Kitab Al-Qudhat Bab 37)

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang berputar-putar di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Maka bila mereka mendapati satu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka mereka pun saling panggil-memanggil dengan menyatakan : Kemarilah kalian karena di sini ada yang kalian cari.” Selanjutnya Nabi SAW menceritakan: “Maka para Malaikat itu merendahkan sayap-sayap mereka, demikian bertumpuk-tumpuk sampai ke langit terdekat (dengan bumi).”
Nabi SAW pun berkata : “Maka Tuhan mereka Yang Maha Agung dan Maha Mulia menanyai mereka dan Allah Maha Tahu dari mereka : “Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba- Ku?” Maka para malaikat itu menjawab : “Mereka bertasbih kepada-Mu dan mereka bertakbir kepada-Mu dan mereka bertahmid kepada-Mu dan mereka mengagungkan Engkau.”
Kemudian Allah menanyai para malaikat itu : “Apakah mereka yang berdzikir itu pernah melihat Aku?” Para Malaikat pun menjawab : “Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihat Engkau.” Allah menanyakan lagi : “Bagaimana seandainya mereka melihat Aku.” Maka para Malaikat pun menyatakan : “Seandainya mereka melihat Engkau, niscaya ibadah mereka kepada-Mu akan lebih kuat, dan mereka akan lebih kuat semangatnya dalam mengagungkan-Mu dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.”
Kemudian Allah menanyai para malaikat itu: “Apakah yang mereka minta dari-Ku?” Para malaikat pun menjawab : “Mereka meminta dari-Mu surga.” Allah bertanya lagi kepada para Malaikat-Nya: “Apakah mereka pernah melihatnya?” Dijawab oleh malaikat : “Tidak pernah mereka melihatnya demi Allah.” Selanjutnya Allah bertanya lagi : “Bagaimana pula kalau mereka pernah melihatnya?” Malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka akan lebih besar keinginannya untuk mendapatkannya, dan lebih kuat semangatnya untuk meminta dan mencapainya.” Allah bertanya lagi : “Dan apakah yang mereka berlindung daripadanya? ” Para Malaikat itu menjawab : “Mereka memohon perlindungan kepada-Mu dari api neraka.” Allah pun bertanya : “Apakah mereka pernah melihatnya?” Dijawab oleh Malaikat : “Tidak, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.” Kemudian Allah menanyakan lagi : “Bagaimana pula kalau seandainya mereka pernah melihatnya?” Malaikat menjawab : “Mereka akan lebih kuat semangat menghindarinya dan akan lebih takut daripadanya.” Maka Allah menyatakan kepada para Malaikat itu : “Aku jadikan kalian sebagai saksi, bahwa Aku mengampuni dosa-dosa mereka.” Maka berkatalah salah satu dari para Malaikat itu: “Di majelis dzikir itu ada si fulan yang sesungguhnya bukan dari mereka yang berdzikir itu. Dia datang ke majelis itu untuk satu keperluan.” Allah pun menyatakan: “Mereka itu adalah majelis yang tidak akan celaka siapa pun yang duduk di majelis itu.”

(HR. Bukhari dalam Shahih nya, lihat Fathul Bari juz 11 hal. 208 no hadits 6408 Kitabud Da’awaat bab Fadl-lu Dzikrillahi `Azza wa Jalla dan HR. Muslim dalam Shahih nya Kitab Ad-Dzikir no.25)

Demikianlah sebagian dalil-dalil dzikir bersama dari sekian banyak hadits-hadits shahih yang menerangkannya.
Semoga dapat kita ambil manfaat dengan pemahaman yang sebaik-baiknya.. amiin ya Robbal ‘alamiin.

Iklan

34 responses to “DASAR PEMIKIRAN PELAKSANAAN TAHLILAN HARI KE 7, 40, 100, DST

  • Beda tipis

    Alhamdulillah

  • MangAndri

    assalamualaiykum …
    Bos saya orang keturunan India beragama Hindu …
    ketika ada kerabat yg meninggal maka mereka-pun melaksanakan ritual dng angka hari 7,40,100 dan 1000…
    saya tidak begitu paham dng hadist2 dll…
    Indonesia dan India …berjauhan
    Hindu di Indonesia dan Hindu di India … berbeda.
    Tetapi kenapa di Hindu India juga ada 7,40,100 dan 1000…
    dan maaf ..berarti bukan adat istiadat kalau toh ternyata asal agama Hindu ada ritual itu.
    mohon maaf kelancangan saya …
    Wassalamualaiykum wr wb
    MangAndri

  • zaki

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Jujur saya orang bingung dan butuh penjelasan dari saudara Penulis

    Permasalahannya adalah, Sholat Tarawih Rasulullah pernah melaksanakannya dengan cara berjamaah, walaupun kemudian setelah itu Beliau sholat tarawih secara sendiri. artinya Sholat tarawih dengan berjamaah pernah dicontohkan oleh Rasulullah, berbeda hal nya dengan Tahlilan, Rasulullah tidak pernah mencontohkannya sedikit pun, bahkan sahabat pun tidak juga melakukannya, bagaimana saudara penulis menjelaskan itu? tidak kah itu berarti kita menambah apa yang tidak Rasulullah ajarkan? Mohon penjelasan.
    ——————————————————————–
    bagaimana Penulis menjelaskan dalil berikut ?

    Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248):

    “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

    Mohon Penjelasannya
    —————————————————————
    Berikut adalah hadist Rasulullah:

    Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)

    yang saya tau (mohon koreksi jika salah) ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):

    “Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
    Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

    Kesimpulan saya dari hadist Rasulullah diatas adalah, Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
    Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Apakah kesimpulan saya benar? Mohon penjelasannya

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

    • mryanwar

      Terimakasih Pak Zaki tanggapan dan pertanyaannya 😁.. kesimpulan mu itu benar menurut kadarmu tdk ada otoritas buat saya menyalahkan kesimpulan yg dianggap ssorg itu benar 😊
      Jgn kan Rasululloh dan imam Syafei. aku pun membenci org2 yg berkumpul di s3rtai Tangisan… kyak gk ada kerjaaan aja dan juga terlalu cengeng sebagai manusia yg ditunjuk Alloh sebagai Khalifah dimuka bumi…sdgkan org yg tahlilan bukan untuk itu

  • gusjan

    Hasil Keputusan Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926:

    >>TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan
    makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang
    berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari
    berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat
    tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah
    tersebut?

    >>JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari
    ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH,
    apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama
    dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh
    tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    Dalam keputusan tsb juga mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah yang hina , Namun Nahdliyin generasi berikutnya
    menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar
    (bahkan melebihi) rukun Islam .. Sekalipun
    seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama
    , namun tidak melakukan tahlilan , akan dianggap
    tercela sekali . Di majalah al-Mawa’idz yang
    diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an , menyitir
    pernyataan Imam al-Khara’ithy yang dilansir oleh
    kitab al- Aqrimany disebutkan : “al- Khara’ithy
    mendapat keterangan dari Hilal bin Hibban r.a,
    beliau berkata : ” Penghidangan makanan oleh
    keluarga mayit merupakan bagian dari perbuatan
    orang- orang jahiliyah “. kebiasaan tersebut oleh
    masyarakat sekarang sudah dianggap sunnah , dan
    meninggalkannya berarti bid’ah , maka telah
    terbalik suatu urusan dan telah berubah suatu
    kebiasaan ” . (al- Aqrimany dalam al-Mawa’idz;
    Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th.
    1933, No. 18, hal . 286) . Dan para ulama berkata :
    “ Tidak pantas orang Islam mengikuti kebiasaan
    orang Kafir , oleh karena itu setiap orang
    seharusnya melarang keluarganya dari menghadiri
    acara semacam itu ”. (al- Aqrimany hal 315 dalam
    al- Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama
    Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285).

    • mryanwar

      Terimakasih tanggapannya 😄 … hasil keputusan muktamar yg anda posting hanyalah copas … dan lbh ke arah niat person atau individu sedangkan yg sya bahas adalah urusan hukum pelaksanaannya

  • MUSTHOFA

    Terimakasih banyak sudah tambah ilmu. Semoga Allah membalas amal baik anda.

  • Aris Priyono

    semua isi hadis2 di atas hanya menerangkan tentang dzikir. tapi tidak ada satupun yang menerangkan tentang dzikir dalam acara tahlilan 7,40 dst. seperti tahlilan yang ada sekarang. belum lagi si tuan rumahbiasanya menyediakan makanan, minuman rokok, besek plus amploph buat pak ustadz.
    dzikir bisa dilakukan kapan saja (kecuali dalam keadaan kotor). bisa sehabis sholat, bisa di majelis taklim, tengah malam bisa sambil bekerja. tidak harus dalam acara tahlilan.
    jadi bukan dzikir bersama permasalahannya tapi acara tahlilan itu sendiri yang tidak pernah diajarkan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    • mryanwar

      Anda sendiri sudah tau tanggapan yg seharusnya tentang dzikir berjamaah.. soalnya anda bilang ((dzikir bisa dilakukan kapan saja (kecuali dalam keadaan kotor). bisa sehabis sholat, bisa di majelis taklim, tengah malam bisa sambil bekerja. tidak harus dalam acara tahlilan)) ini adalah tanggapan yg bijak dan menjadi simpulnya 😄
      Hanya karena sentimen terhadap istilah tahlilan lah yg membuat anda kurang bs adil dalam menyikapinya.
      Tdk ada yg bilang dzikir jamaah hrus dalam dalam acara tahlilan… toh tahlilan itu hanya sebuah pelebelan nama acara yg jika lebel itu kita tiadakan maka tinggal isinya dan isinya itulah yg namanya dzikir yg anda sampaikan bs kapan saja 😄

      • ainul

        terima kasih, nambah ilmu… klo didaerah saya, tradisi ini tetap dilaksnakan tetapi tetep menghormati sohibul hajah, kalau tuan rumah mau ya dilaksanakan tetapi kalau tuan rumah tidak berkehendak maka tidak dilaksanakan. fleksibel, bahkan masalah makanan dan minuman itu orang kampung berbondong2 urunan tanpa membebani tuan rumah. sudah tradisi.. saya sih dengan keterangan panjenengan jadi lebih mantab melaksanakannya.

  • lishar

    Jauh panggang dari api, pahami lagi ilmu ushul fiqh

  • abu khozin

    yang terpenting marilah kita yakini bahwa Islam adalah agama yang diridloi Allah, nabi kita Muhammad saw kitabnya kita alquran dan penjelasannya adalah al hadits jika amaliyah yang tidak dijelaskan secara rinci baik oleh alquran maupun hadits bagi yang memenuhi kriteria untuk berijtihad monggo lakukan ijtihad dengan hati yang tulus semata untuk meningkatkan kwalitas ibadah kita kepada Allah SWT. wallahu alam

  • sudi

    Assalamualaikum ustad, beberapa riwayat di atas menjelaskan seorang yg menyedekahkan kebunnya dan pahala untuk ibunya. Pertanyaan saya bolehkah kita membaca ayat ayat suci al Quran dan pahalanya kita berikan kpd orang yang telah meninggal. ? Mohon penjelasannya.

    • mryanwar

      Waalaikum salam wr wb… boleh boleh saja.. yg pnting ikhlas Lillahitaala… gk perlu dipanjang2in penjelasannya 😄 krn yg gk boleh itu ketika niat dalam hati salah. Intinya Perhatikan hati ketika beramaliyah.
      Ibadah itu ada dlm hati yg tulus tanpa hrus ada penilaian

    • mryanwar

      Boleh boleh saja mas Sudi.. Alloh SWT maha Kuasa

  • Gareng

    Judul tulisan: “DASAR PEMIKIRAN PELAKSANAAN TAHLILAN HARI KE 7, 40, 100, DST”. Pertanyaannya kenapa gak ada referensi dari kitab-kitab​ hindu ya, padahal di sana lengkap dalil-dalilnya. Kalau hal tsb. banyak dilakukan oleh orang Islam kenapa gak merujuk kitab-kitab​ mereka, biar sama gituuu… Biar campur aduk…!!! Hadeuuuuhhhhh…!!!

  • diki

    1.hadist pertama palsu
    2.sedekah untuk ibunya itu sedekah jariyah diperkuat hadist lain yaitu 3 hal meski mati pahala mengalir yaitu sedekah jariyah ilmu bermanfaat anak soleh yang mendoakan,tahlilan membuat makanan tidak masuk sedekah jariyah
    3.dalil tidak nyambung yang taman surga dan ijtijad dg pikiran
    4.hadist yang menerangkan dzikir bersama itu buat kalian (yang masih hidup)

  • muluk rizal

    Alhamdulillah… penjelasanya ustad..hal seperti inilah yg di harapkan dari setiap muslim …membagi ilmu agar kita bisa dgn bijak memahami dan menjalankan ibadah berdasarkan petunjuk syariah…dan kita jga bijak menentukan mana amalan2 yg berdasarkan syariah yg berlaku di sekitar kita..agar kita tdk gampang memfonis sesat terhadap saudara2 muslim yg lainx..melainkan kita memberi pilihan dengan dasar2 /dalil sejarah yg telah dilaksanakan oleh mereka pendahulu kita yaitu ahlul bait…

  • Agoest Musyahida

    Lha wes bener to….????
    Tahlilan hanyalah sebuah istilah
    Pada dasarnya isi dan isinya yaitu dzikir dg berbagai macam surat, penggalan surat, dzikir dan diakhiri doa
    Dzikir bisa kapan saja
    Dan dzikir jg bisa dikirim ke orang yg sudah meninggal dunia
    Kalaupun dzikir tidak sampai,jelas2 tidak ada hadits di atas ( ilmu yg manfaat,shadaqoh jariyah dan ANAK SHALIH YG MENDOAKAN ORANG TUANYA)
    bahkan juga tidak aka Rasulullah mengajarkan untuk menshalati orang yg mati

    So,kesimpulannya adalah semisal ada sahabat,kerabat ato ortu yg meninggal dan anda bacakan tahlilan ataupun sekedar kirim alfatihah saja (bukan hanya untuk 1-7, 40, 100, 1000 dll) tiap hari,,, ya sah sah saja
    Tidak ada yg salah dan pasti sampai kok kepada si mayit

    Dan untuk hari,itu hanyalah memperingati juga tidak mungkinlah kalo shahibul hajat mengundang tiap hari untuk minta tolong kirim doa
    Ya kn?
    Dan untuk jamuan makanan itu hanya sekedar kemampuan shahibul hajat yg telah minta bantuan doa dg mengundang tetangga sekitar
    Tidak ada org yg memaksa harus ada makanan,tekadang hanya minum saja kok
    Nb. Untuk org yg memaksakan kehendak harus ada makanan sampai hutang kesana kemari, itu yg salah bukan tahlilannya,tp pribadi org itu sendiri
    Toh kalaupun semisal sampai 7 hari hanya dikasih minum jg para tetangga sg ikhlas datang kok, karena dia akan ingat,suatu saat kalo aq mati jg pasti butuh doa dari tetangga sekitar
    Salah benar monggo dikomen

  • ekal

    Ok, anggaplah “ritual” tahlilan dibenarkan….tapi tolong dijelaskan arti dari hari ke 1-7 dan 40 hari, 100-1000. Tolong dijelaskan arti dan tujuannya berdasarkan hadits…..

    • mryanwar

      Ok Anggap apa sja silahkan 😁.. smua bebas beranggapan… Arti dan tujuan berdasarkan Hadis adalah Kemubahan saja bukan sumber perdebatan… tp bagi yg tdk setuju mayoritas mereka beranggapan sebagai sumber perdebatan/perpecahan saja berdasarkan hadis yg mreka yakini

  • ekal

    Maaf, saya berasal dari Maluku Utara dimana acara tahlilan pada hari 1-7 kemudian hari ke 40 sampai 100 sudah menjadi “tradisi”. Tapi sampai saat ini saya belum tau bahkan saya yakin seluruh masyarakat yang pernah “tahlilan” juga tidak tahu maksud dari hitungan ” hari-hari” tsbt. Ada yang bisa jelaskan…??

    • mryanwar

      Maksudnya tidak perlu difikir rumit rumit .. itu hanyalah moment saja… seperti ketika kita ingin menikah pasti kita akan tentukan waktunya di tgl brpa bulan brpa dan tahunnya juga jam nya jam brpa … dan ini adalah kemubahan.

  • satrio

    pandangan imam Syafii sendiri –yang katanya- mayoritas ummat Islam di Indonesia bermadzab dengannya, apakah ia sepakat dengan kebanyakan kaum muslimin ini atau justru beliau sendiri yang melarang kegiatan tahlilan ini?

    Didalam kitab al Umm (I/318), telah berkata imam Syafii berkaitan dengan hal ini;

    “Aku benci al ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbahrui kesedihan.”

    Jadi, imam Syafii sendiri tidak suka dengan kegiatan tahlilan yang dilakukan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ummat Islam sendiri.

    Membaca Al Qur’an untuk orang mati (menurut Imam Syafi’i).

    Dalam Al Qur’an, di surat An Najm ayat 38 dan 39 disebutkan disana;

    [53.38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

    [53.39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

    Berkaitan dengan hal ini maka Al Hafidh Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai berikut;

    “Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, demikian juga seseorang tidak akan memperoleh ganjaran/pahala kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri.

    Dan dari ayat yang mulia ini, al Imam Asy Syafii bersama para ulama yang mengikutinya telah mengeluarkan suatu hukum:

    Bahwa Al Qur’an tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati.

    Karena bacaan tersebut bukan dari amal dan usaha mereka. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mensyariatkan umatnya (untuk menghadiahkan bacaan Qur’an kepada orang yang telah mati) dan tidak juga pernah menggemarkannya atau memberikan petunjuk kepada mereka dengan baik dengan nash (dalil yang tegas dan terang) dan tidak juga dengan isyarat (sampai-sampai dalil isyarat pun tidak ada).

    • mryanwar

      Terimakasih pendapatnya mas Setio 😁
      Benar adanya bhwa Imam Syafi’i membenci org yg berkumpul untuk tujuan meratap (Al Ma’tam) . Dan ini Is’t Ok aja. Dan smua spakat soal ini. Yg pasti dia tdk pernah bilang untuk membenci tahlilan.. karna ini adalah perbuatan yg durhaka.. barang siapa yg membenci tahlil yg ada dlm acara apapun maka murtadlah pastinya org tersebut. Intinya bukanlah acara yg diributkan tp isi dan tujuannya yg perlu diperhatikan. Ini adalah pola fikir yg Objektif.
      Membenci tahlilan jika krn masalah faham dan golongan ini adalah pola Subjektif.. yg memicu perpecahan dan kemurtadan.
      Masalah sampainya Pahala atau tidak para imam tdk pernah memperdebatkannya. Dan Ayat itu bukan suatu alat untuk menjelasakan tdk sampainya Pahala bacaan, bukan juga dimaksudkan bahwa kita tdk bs menerima manfaat dr org lain. maksudnya, seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain.
      Krn jika ayat an najm itu dimaksudkan sprti yg mas Satrio maksudkan maka Tdk akan pernah ada Sholat Mayit dan bacaan Solat mayit yg ada didalamnya.. karna pendapat satrio membatalkan hal ini. Dan ini adalah kemurtadan

      • Syarif Bin Saharuddin Jamal

        Asalamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh Waridhwanuhu Wamaghfirotuh… Ajib Syukron Ustad Admind Atas Penjelasan Yg Padat tepat dan Ilmiah Kami Masyarakat Jadi Paham. (Krn skarg banyak Fitnah dimana mana ada sebagian Kelompok Orang yg dgn terang terangan yg Suka dengan Mudahnya mengkafir kafirkan Mensesat sesatkan membid’ah bid’ahkan Suatu Amalan Kelompok yg tidak seakidah dengan mereka dan ini sdh bukan Rahasia Umum lagi).. Jazakallah Khoiron Katsiron …

      • mryanwar

        Sama2 ustadz
        Semua sebnarnya terang dan terang terangan, cuma akal kita saja yg senang menyamarkannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: